What Happens In Path, Stays In Path!

Path, sebuah aplikasi yang hanya bisa diakses melalui ponsel pintar atau tablet, sampai saat ini sih hanya yang berbasis iOS dan Android. Pembuat aplikasi ini mengharapkan penggunanya bisa merasa nyaman untuk menjadi dirinya sendiri. Penggunanya bisa bebas berbagi foto, tulisan dan lainnya hanya untuk teman dan keluarga terdekat. Iya, pada prinsipnya memang Path dibuat untuk berbagi hanya untuk teman/keluarga terdekat. Maka dari itu awalnya Path ini hanya dibatasi maksimal 150 koneksi pertemanan berdasarkan dari hasil penelitian yang menyebutkan bahwa dalam hidup seorang manusia hanya ada 150 orang terdekatnya. Tetapi prinsip tersebut pun diganti beberapa bulan lalu saat Path akhirnya mengijinkan batas maksimal 500 pertemanan.

Ketika sebagian dari kita akhirnya mulai jenuh dengan Facebook, Path pun akhirnya mendapatkan angin segar. Pengguna Facebook mungkin tersadar dengan terlalu banyaknya koneksi pertemanan yang ada di FB, terlena menerima beberapa teman yang tidak terlalu dekat membuat mereka tidak merasa bebas untuk menjadi diri sendiri di ciptaan Mark Zuckerberg ini.

Sayangnya, sebagian dari kita mungkin lupa perbedaan Path ini dengan social media lainnya.

Visi Path untuk menjadi tempat berbagi hanya untuk teman atau keluarga terdekat pun diabaikan. Demi memenuhi batas maksimal pertemanan di Path atau mungkin hanya karena merasa tidak enak, siapa pun diterima untuk menjadi Teman Path.

Selain itu, kita juga lupa kalau Path ini memiliki visi menjadi tempat yang nyaman untuk berbagi dengan teman/keluarga sendiri. Sudah ada beberapa kasus di Indonesia yang terjadi hanya karena postingan Path yang di-capture oleh seseorang. Tentu saja yang bisa melihat dan meng-capture postingan tersebut adalah teman Path-nya sendiri kan? Mungkin sebagian pengguna Path lupa saat kita mengajukan atau menerima pertemanan di Path, saat itulah Teman Path-mu sudah mempercayaimu untuk berbagi apapun yang sifatnya lebih personal dibanding yg dia bagikan di media sosial lainnya. Kalau dikaitkan kembali ke visi Path, teman Path-mu sudah menganggap dirimu sebagai teman atau pun keluarga dekat.

saja menimpa Florence, beberapa orang mungkin lupa lagi kalau Dinda dan Florence sedang menjadi dirinya sendiri di Path. Keluhan-keluhan atau pun cemoohannya itu semestinya hanya sebatas di Path saja (kecuali dia sendiri yang membagikannya ke twitter, fb, dan socmed lain yang terkoneksi). Ada teman/keluarga yang “mengkhianati” kepercayaan dari Dinda dan Florence yang sudah bersedia berbagi dengannya.

Alangkah baiknya jika teman yang tidak setuju dengan pendapat dari Dinda atau Florence hanya mengomentari postingan Dinda/Florence saja jika mereka memang benar-benar adalah teman! Bukan dengan meng-capture dan menyebarkannya ke publik.

Dear teman Path, apakah kalian benar-benar temanku? ☺

“What happens in Path, stays in Path”

tulisan ini juga dimuat di http://revi.us

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *